وعن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال
Dan dari Sa’iid al-Khudriy radhiyallaahu ‘anhu dari Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda:
قال موسى عليه السلام : يا رب علمني شيئاً أذكرك وأدعوك به ، قال : قل يا موسى لا إله إلا الله . قال : كل عبادك يقولون هذا ، قال : يا موسى لو أن السموات السبع وعامرهن غيري والأرضين السبع في كفة ، ولا إله إلا الله في كفة ، مالت بهن لا إله إلا الله
”Berkata Muusa ‘alayhis salaam: ‘Wahai Rabb, ajarkanlah padaku sesuatu yang dengannya aku berdzikir kepadaMu dan berdoa kepadaMu’. Maka (Allaah) berfirman: ‘Wahai Muusaa, Ucapkanlah: ‘Laa ilaaha illaLLaah’. Berkata (Muusaa) : ‘Setiap hambaMu mengucapkan hal ini’. (Allaah) berfirman: ‘Wahai Muusaa, seandainya langit yang tujuh serta seluruh penghuninya, selain Aku, dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan dan kalimat Laa ilaaha illaLLaah diletakkan pada sisi lain timbangan, niscaya kalimat Laa ilaaha illaLLaah lebih berat timbangannya’…”[1]
رواه ابن حبان والحاكم وصححه
Diriwayatkan ibnu Hibbaan dan al-Haakim dan ia (al-Haakim) menshahiihkannya
Penjelasan umum hadits
Penjelasan Syaikh ‘Abdurrahmaan bin Hasan aalusy Syaikh
Abu Said: Namanya ialah: Sa’ad bin Malik bin Sinan bin al-Khazraji. Beliau adalah seorang sahabat yang Ubaid al-Anshari sahabat Beliau yang juga seorang mulia, begitu pula bapaknya belum cukup umur untuk ikut di perang Uhud, dan beliau hadir setelah Uhud, wafat di Madinah tahun 63 H dalam peperangan atau 64 H atau 65 H. ada yang berkata, tahun 74 H.
[Disalin “Blog Dakwah Tauhid”, dari kitab “Fathul Majid – Penjelasan lengkap kitab tauhid Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, Dilengkapi Takhrij Hadits-hadits yang dipermasalahkan dalam kitab tauhid (Syaikh Furaih bin Shaalih al Bahlal)”, Pustaka Sahifa]
Penjelasan perkataan Muusaa: يا رب علمني شيئاً أذكرك وأدعوك به (Wahai Rabb, ajarkanlah padaku sesuatu yang dengannya aku berdzikir kepadaMu dan berdoa kepadaMu)
Penjelasan Syaikh ‘Abdurrahmaan bin Hasan aalusy Syaikh
(Perkataan nabi Musa) أذكرك (aku mengingatMu) yakni, memujiMu.
(Perkataan beliau) وأدعوك (dengannya Dan berdoa kepadaMu) yakni, memohon kepadaMu.
[Disalin “Blog Dakwah Tauhid”, dari kitab “Fathul Majid – Penjelasan lengkap kitab tauhid Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, Dilengkapi Takhrij Hadits-hadits yang dipermasalahkan dalam kitab tauhid (Syaikh Furaih bin Shaalih al Bahlal)”, Pustaka Sahifa]
Penjelasan Syaikh ‘Abdullaah ibn ‘Abdil ‘Aziiz ibn Bazz
Hadits ini juga menunjukkan keutamaan kalimat La ilaha illallah. Dalam ucapan Musa terkandung dua hal, yaitu dzikir dan doa. Musa berkata, “Ajarkanlah kepadaku sesuatu yang bisa aku gunakan untuk menyebut nama-Mu dan berdoa kepada-Mu”. Syahadat ini sekaligus dzikir kepada Allah karena di dalamnya terkandung pengakuan akan keesaan Allah. Selain itu, juga sebagai doa karena orang yang mengucapkannya tentu mengharapkan pahala. Hal ini juga berlaku untuk semua jenis dzikir, tasbih, tahmid, dan tahlil.
[Disalin “Blog Dakwah Tauhid”, dari kitab “Syarah Kitab Tauhid Syaikh Bin Baz”, Pustaka ash Shahihah]
Penjelasan Syaikh Muhammad ibn Shaalih ibnul ‘Utsaimiin
Ini merupakan sifat dari sesuatu dan bukan jawaban dari permintaan. Musa Alaihissalam meminta sesuatu, agar dapat ia gunakan untuk mendapatkan dua hal: mengingat Allah dan berdoa kepada-Nya. Maka Allah memenuhi permintaan itu dengan berfirman ucapkanlah “la ilaha illallah.”
Kalimat ini merupakan dzikir yang juga mengandung doa, karena orang yang berdzikir menghendaki keridhaan Allah bagi dirinya dan keinginan untuk mencapai tempat kemuliaan-Nya. Jadi, itu merupakan dzikir yang juga mengandung doa, sebagaimana perkataan penyair.
أأذكر حاجتي أم قد كفاني | حباؤك إن شيمتك الحباء
Apakah aku harus mengingat kebutuhanku atau cukup bagiku Pemberianmu ketika aku sedang membutuhkan pemberianmu?
Ibnu Abbas mengambil dalil bahwa dzikir juga berarti doa, dan menguatkan pendapat ini dengan perkataan seorang penyair.
إذا أثنى عليك العبد يوماً | كفاه من تعرضه الثناء
Jika suatu hari hamba menyampaikan pujian kepada-Mu Maka cukup baginya apa yang dia lakukan dengan pujian itu
[Disalin “Blog Dakwah Tauhid”, dari kitab “Syarah Kitab Tauhid”, Darul Falah]
Penjelasan Firman Allaah :قل يا موسى لا إله إلا الله (‘Wahai Muusaa, Ucapkanlah: ‘Laa ilaaha illaLLaah’)
Penjelasan Syaikh ‘Abdurrahmaan bin Hasan aalusy Syaikh
Ini menunjukkan bahwa orang yang berdzikir dengannya mengucapkannya harus seluruhnya dan tidak membatasi hanya lafazh al-jalalah (Allaah), tidak pula hanya dengan هو (huwa / Dia) seperti yang dilakukan oleh orang-orang sufi jahil, karena itu adalah bid’ah dan kesesatan.
[Disalin “Blog Dakwah Tauhid”, dari kitab “Fathul Majid – Penjelasan lengkap kitab tauhid Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, Dilengkapi Takhrij Hadits-hadits yang dipermasalahkan dalam kitab tauhid (Syaikh Furaih bin Shaalih al Bahlal)”, Pustaka Sahifa]
Penjelasan Syaikh ‘Abdullaah ibn ‘Abdil ‘Aziiz ibn Bazz
Ditegaskan lagi bahwa hadits ini menunjukkan betapa agungnya kalimat tauhid yang menjadi dzikir dan doa bagi yang mengucapkannya. Namun, keutamaan kalimat ini ternyata tidak diketahui oleh sebagian nabi.
Yang paling agung dari kalimat ini adalah terwujudnya ibadah hanya kepada Allah, dan penafian ibadah kepada selain-Nya. Makna kalimat ini: tidak ada sembahan yang haq (benar) selain Allah, dan semua sembahan selain Allah adalah batil. Dalam sabda Nabi: وعامرهن غيري (wa ‘amirahunna ghairi), Allah mengecualikan diri-Nya karena Allah Maha Besar, Dia berada di atas Arsy. Allah-lah yang menegakkan langit dan bumi dan Dia pula yang menahannya. Dia-lah yang menegakkan Arsy dan Kursi.
Allah berfirman,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَن تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. (Qs. Ar-Rum: 25),
dan (difirmanNya)
إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَن تَزُولَ
“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap (QS. Fathir: 41)
[Disalin “Blog Dakwah Tauhid”, dari kitab “Syarah Kitab Tauhid Syaikh Bin Baz”, Pustaka ash Shahihah]
Penjelasan perkataan Muusaa: كل عبادك يقولون هذا (Setiap hambaMu mengucapkan hal ini)
Syarah Syaikh ‘Abdurrahmaan bin Hasan aalusy Syaikh
Dalam tulisan syaikh Muhammad adalah dengan lafazh jamak يقولون (yaquuluun), sementara yang tercantum dalam buku-buku induk adalah dengan lafazh mufrad يقول (yaquul) karena melihat kepada lafazh كل (kullu)
Hadits ini di dalam al-Musnad dari hadits Abdullah bin Amr dengan lafazh jamak sebagaimana yang disebutkan oleh penulis dengan dengan mempertimbangkan makna كل.
Dalam sebuah riwayat setelah ucapannya:
كل عبادك يقولون هذا
Semua hambaMu mengucapkannya
(Maka Allaah berfirman)
قل : لا إله إلا الله ، قال : لا إله إلا انت يا رب، إنما أريد شيأ تخصني به
Katakanlah: Laa ilaaha illaLLaah (tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allaah), Musa berkata: Tiada sesembahan yang berhak disemba selain Engkau, wahai Rabb. (Akan tetapi) aku ingin sesuatu yang Engkau khususkan untukku.
Karena manusia, bahkan seluruh alam, sangat memerlukan La ilaaha illallah dalam batas yang tiada terhingga, maka La ilaha illallah termasuk dzikir yang tiada terhingga, maka Laa ilaaha illaLLaah paling banyak eksistensinga, paling mudah didapatkan dan paling agung maknanya. Walaupun demikian (banyak) orang-orang awam dan orang-orang jahil meninggalkannya dan menggantikannha dengan doa-doa bid’ah yang tidak tercantum di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
[Disalin “Blog Dakwah Tauhid”, dari kitab “Fathul Majid – Penjelasan lengkap kitab tauhid Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, Dilengkapi Takhrij Hadits-hadits yang dipermasalahkan dalam kitab tauhid (Syaikh Furaih bin Shaalih al Bahlal)”, Pustaka Sahifa]
Penjelasan Syaikh Muhammad ibn Shaalih ibnul ‘Utsaimiin
Perkataan Musa كل عبادك يقولون هذا (setiap hambaMu mengucapkan hal ini…), Bukan berati ini merupakan kalimat sepele yang dapat diucapkan setiap makhluk. karena Musa Alayhissalaam juga mengetahui keagungan kalimat ini. Tapi beliau menginginkan yang dikhususkan karenanya, karena sesuatu sesuatu menunjukkan kedudukan dan pengkhususan ketinggiannya.
[Disalin “Blog Dakwah Tauhid”, dari kitab “Syarah Kitab Tauhid”, Darul Falah]
Penjelasan Firman Allaah : يا موسى لو أن السموات السبع وعامرهن غيري والأرضين السبع في كفة ، ولا إله إلا الله في كفة ، مالت بهن لا إله إلا الله (Wahai Muusaa, seandainya langit yang tujuh serta seluruh penghuninya, selain Aku, dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan dan kalimat Laa ilaaha illaLLaah diletakkan pada sisi lain timbangan, niscaya kalimat Laa ilaaha illaLLaah lebih berat timbangannya)
Penjelasan Syaikh ‘Abdurrahmaan bin Hasan aalusy Syaikh
Dalam firmanNya و عامرهن غيري (Dan penghuninya selainku), kata عامر dibaca nashab karena ia ma`thuuf kepada السموات , yakni, seandainya langit yang tujuh dan para penghuni yang ada disana -selain Allaah- dan bumi yang tujuh dengan para penduduknya diletakkan di salah satu timbangan dan Laa ilaaha illaLLaah diletakkan pada timbangan lain, maka Laa ilaaha illaLLaah lebih berat.
Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullaah bin ‘Amru, dari Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda:
إنَّ نبيَّ الله نوحًا صلَّى اللهُ عليه وعلى آله وسلَّم لَمَّا حضَرَتْه الوفاةُ، قال لابنه : آمرك بلا إله إلا الله ، فإن السموات السبع والأرضين السبع لو وضعت في كفة ، ولا إله إلا الله فى كفة رجحت بهن لا إله إلا الله ، ولو أن السموات السبع والأرضين السبع كن حلقة مبهمة لقصمتهن لا إله إلا الل
Sungguh, Nabi Nuh berkata kepada anaknya menjelang kematiannya, ‘Aku memerintahkanmu (untuk berpegang teguh dengan) dengan La ilaha illallah karena seandainya langit yang tujuh dan bumi yang tujuh diletakkan di satu daun timbangan, sementara Laa ilaaha illaLLaah diletakkan di daun timbangan yang lain, niscaya Laa ilaaha illaLLah’ lebih berat, dan seandainya langit yang tujuh dan bumi yang tujuh adalah lingkaran besi yang pegal (keras dan padat), niscaya La ilaha ilallah dapat mematahkannya.
(Firman Allaah) في كفة (di satu daun timbangan): كفو dengan kaf dibaca kasrah dan fa ditasydid, yakni, daun timbangan.
(Firman Allaah) مالت بهن [niscaya ‘La ilaha illaLLaah’ lebih berat] yakni, lebh rajih (lebih kuat dan lebih berat), hal itu karena La ilaha illallah mengandung penafian terhadap syirik dan tauhid kepada Allah yang merupakan amal termulia, asas Agama dan millah. Barangsiapa dengan keikhlasan dan keyakinan, mengamalkan tuntutannya, konsekuensinya, hak-haknya, dan dia teguh diatas itu, maka ini merupakan kebaikan yang tidak tertandingi oleh apapun, sebagaimana firman Allaah:
إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا فلا خوف عليهم ولا هم يحزنون
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.
(al-ahqaaf : 13)
Hadits ini menunjukkan bahwa ‘Laa ilaaha illaLLaah’ merupakan dzikir yang paling utama, seperti halnya yang tercantum dalam hadits ‘Abdullaah ibn ‘Amru secara marfuu’:
خير الدعاء دعاء يوم عرفة وخير ما قلت أنا والنبيون من قبلى : لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، له الملك وله الحمد وهو على كل شئ قدير
“Sebaik-baik doa adalah doa hari arafah, dan sebaik-baik apa yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah: ‘Laa ilaaha illaLLaahu wahdahu laa syariikalah, Lahul mulk, walahul hamd, wa huwa ‘ala kulli syay`in qadiir’ (Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allaah semata, tiada sekutu bagiNya; bagiNya kerajaan, bagiNya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)”
Diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Tirmidziy
Dan juga dari ‘Abdullaah bin ‘Amruu secara marfuu’:
يصاح برجل من أمتى على رؤوس الخلائق يوم القيامة فينشر له تسعة وتسعون سجلاً ، كل سجل منها مد البصر
Seorang laki-laki dari ummatku dipanggil dihadapan manusia pada Hari Kiamat, lalu sembilan puluh sembilan buku catatan disebar dihadapannya, setiap buku catatan sepanjang mata memandang.
ثم يقال : أتنكر من هذا شيئا ؟ أظلمك كتبتى الحافظون
Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Apakah kamu mengingkari sesuatu dari (catatan) ini? Apakah para malaikatKu yang menuntut (amal perbuatanmu) menzhalimimu?’
فيقول : لا يارب
Maka ia berkata: Tidak, wahai Tuhanku.
فيقال : أفلك عذر أو حسنة ؟
Maka dikatakan kepadanya: ‘Apa kamu mempunyai ‘udzur (atas keburukan tersebut, ed) atau kebaikan (yang dapat menutupi keburukan-keburukan itu, ed)?’
فيهاب الرجل فيقول : لا
Maka laki-laki ini ketakutan, dan ia menjawab: ‘Tidak’
فيقال : بلى إن لك عندنا حسنة وإنه لا ظلم عليك اليوم
Maka dikatakan padanya: ‘Ada, disisi Kami kamu mempunyai satu kebaikan, dan pada hari ini tidak ada kezhaliman atasmu’
فيخرج له بطاقة فيها : أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمداً عبده ورسوله
Maka dikelauarkanlah sebuah kartu untuknya yang berisi: ‘asyhadu an laa ilaaha illaLLaah, wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh’ (Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan [yang berhak disembah] melainkan Allaah, dan bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya)
فيقول يا رب ما هذه البطاقة مع هذه السجلات ؟
Maka ia berkata: Wahai Tuhanku, apalah artinya kartu ini dibandingkan buku-buku catatan ini?
فيقال : إنك لا تظلم
Maka dikatakan padanya: Sesungguhnya kamu tidak akan dizhalimi.
فتوضع السجلات في كفة ، والبطاقة في كفة فطاشت السجلات وثقلت البطاقة
Maka buku-buku catatan itu diletakkan dalam satu daun timbangan, sementara kartu itu diletakkan di timbangan yang lain dan buku-buku catatan itu terangkat karena kalah berat oleh kartu tersebut.
Diriwayatkan at-Tirmidziy dan dia menghasankannya; diriwayatkan pula oleh an-Nasaa`iy dan al-Haakim, ia (al-Haakim) berkata: “Shahiih berdasarkan syarat Muslim”. dan adz-Dzahabiy didalam at-Talkhiis berkata: “Shahiih”.
Ibnul Qayyim berkata, ‘Amal perbuatan tidak saling mengungguli karena bentuk dan jumlahnya, akan tetapi saling mengungguli karena perbedaan apa yang ada didalam hati, maka bentuk dua amal perbuatan (kadang) kelihatannya satu, padahal perbedaan diantara keduanya seperti antara langit dan bumi”
Dia berkata: “Renungkanlah hadits kartu yang diletakkan di satu daun timbangan, ia ditimbang dengan sembilan puluh sembilan buku catatan, masing-masing catatan darinya sepanjang mata memandang, tapi kartu itu lebih berat sehingga buku-buku catatan itu terangkat, sehingga pemiliknya tidak diadzab. Dan sudah dimaklumi bahwa setiap orang yang bertauhid memiliki kartu ini, sekalipun banyak diantara mereka yang diadzab di neraka karena dosa-dosanya”.
[Disalin “Blog Dakwah Tauhid”, dari kitab “Fathul Majid – Penjelasan lengkap kitab tauhid Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, Dilengkapi Takhrij Hadits-hadits yang dipermasalahkan dalam kitab tauhid (Syaikh Furaih bin Shaalih al Bahlal)”, Pustaka Sahifa]
Penjelasan Syaikh ‘Abdullaah ibn ‘Abdil ‘Aziiz ibn Bazz
[Firman Allaah] في كفة yaitu sisi timbangan dan kalimat La ilaha illallah di sisi timbangan satunya.
[Firman Allaah] مالت artinya Condong atau miring. Maksudnya adalah maknanya, bukan dzatnya. Ditinjau dari makna dan hakikatnya, makna kalimat tauhid ini adalah makna yang paling agung, paling tepat, dan paling penting.
[Disalin “Blog Dakwah Tauhid”, dari kitab “Syarah Kitab Tauhid Syaikh Bin Baz”, Pustaka ash Shahihah]
Penjelasan Syaikh Muhammad ibn Shaalih ibnul ‘Utsaimiin
Allaah menjelaskan kepada Musa bahwa kendatipun ia diberi sesuatu maka tidak ada pemberian yang lebih baik daripada kalimat ini, bahwa kalimat la ilaha illallah lebih besar daripada langit dan bumi sera seisinya karena kalimat laa ilaha illallah ini lebih berat daripada timbangan langit dan bumi serta seisinya. Hal ini menunjukkan kelebihan Laa ilaaha illaLLaah dan keagungannya, tapi harus disertai pemenuhan syarat-syaratnya. Jika sekedar untaian kata-kata yang diucapkan di lisan, maka berapa banyak orang yang mengucapkannya tapi pada hakikatnya ia seperti bulu yang tidak bernilai, karena dia tidak mengucapkannya dengan memenuhi syarat-syaratnya dan meniadakan penghalang-penghalangnya.
Firman Allah, والأرضين السبع bumi yang tujuh, dalam sebagian naskah disebutkan dalam bentuk marfu. Tapi itu tidak benar, karena jika ia disambungkan dengan ismu anna sebelum ada khabar, maka ia wajib manshub.
Firman Allah, عامرهن ‘amirahunna’, ‘penguhuninya’; al-amiru lisy syay`i artinya ‘yang mengisi sesuatu’
Firman Allah, غيري ‘selain Aku’, Allah mengecualikan Diri-Nya sendiri, karena perkataan la ilaha illallah merupakan pujian bagi-Nya yang berarti siapa yang dipuji lebih agung dari pujian itu.
Di sini engkau harus tahu bahwa keberadaan Allah di langt tidak sama dengan keberadaan para malaikat di langit. Keberadaan para malaikat di langit merupakan kebutuhan. Mereka berada di langit karena memang mereka merasa perlu berada di sana. Sementara Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak membutuhkan langit, bahkan langit dan selain langit membutuhkan Allah. Jadi, jangan sampai ada yang beranggapan bahwa langit memberi perlindungan kepada Allah, atau memayungi atau melingkupi-Nya atau berada di atas-Nya. Langit bagi para malaikat merupakan tempat kediaman dan lindungan. Tapi bagi Allah, langit itu merupakan sisi, karena Allah istiwa (menetap) di atas Arsy dan tak satu pun di antara makhluk-Nya yang memberi perlindungan terhadap-Nya
Firman Allaah مالت (malat) artnya lebih berat hingga condong.
[Disalin “Blog Dakwah Tauhid”, dari kitab “Syarah Kitab Tauhid”, Darul Falah]
Penjelasan Perkataan penulis: رواه ابن حبان والحاكم (Diriwayatkan ibnu Hibbaan dan al-Haakim)
Ibnu Hibbaan adalah Muhammad bin Hibbaan -dengan ح (haa`) dibaca kasrah, dan ب (baa`) ditasydid- bin Ahmad bin Hibban bin Mu’aadz, Abu Hatim at-Tamimiy al-Bustiy. Beliau adalah seorang al-Haafizh (penghafal hadits yang ulung), memiliki banyak karya tulis, seperti ash-Shahiih, at-Taarikh, adh-Dhu’afaa`, ats-Tsiqaat, dan lain-lain. al-Haakim berkata: “Dia termasuk sumber ilmu dalam fikih, bahasa, hadits, dan nasehat; satu diantara orang-orang cerdik. Wafat 354 H, di Bust -dengan ب (ba`) dibaca dhammah dan س (sin) di-sukun.
Sedangkan al-Haakim ialah Muhammad bin ‘Abdullaah bin Muhammad an-Naysaabuuriy, (dengan kunyah) abu ‘Abdillaah, seorang al-haafizh, dikenal dengan ibnul Buyyi’. Beliau lahir tahun 321 H, dan memiliki sejulah karya tulis seperti: al-Mustadrak, Taariikh Naysaabuur, dan selainnya. Wafat tahun 405 H.
[Disalin “Blog Syarah Kitab Tauhid”, dari kitab “Fathul Majid – Penjelasan lengkap kitab tauhid Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, Dilengkapi Takhrij Hadits-hadits yang dipermasalahkan dalam kitab tauhid (Syaikh Furaih bin Shaalih al Bahlal)”, Pustaka Sahifa]
Dipublish: Kamis, 29 Rabii’ul Aakhir 1436 Hijriah
Dipublish kembali: 21 Rabii’ul Aakhir 1438 H
Catatan Kaki
[1] Diriwayatkan lbnu Hibbaan (no.2324): Al-Hakim (1/528, no. 1936). dan ia disetujui Adz-dzahabi; diriwayatkan pula Al-Baihaqi dalam Al-Asma’ wa Ash-Shifat hal. 102. Dan Al-Haitsami menisbatkan dalam Al-Majma’ (10/82, no. 16802), Demikian pula oleh an Nasaa`iy dalam al-Kubraa (no. 10670), Abu Nu’aym dalam al-Hilyah (2/328), al-Muttaqil Hindi dalam Kanzul ‘Ummat (no. 1907). Diriwayatkan pula Abu Yala dalam musnadnya (no. 1393), dan ia berkata “Para perawinya menguatkan atas kelemahan mereka. Dalam sanadnya ada Darmi bin Sam’an Abu As-Samah dan ia dha’if” Lihat Taqrib At-Tahdziib: (1/235); Hadits ini didha’ifkan oleh al-Albaaniy dalam Kalimatul Ikhlaash (1/58)
SUMBER : https://dakwahtauhiid.wordpress.com/2015/02/19/penjelasan-hadiits-abu-saiid-al-khudriy-timbangan-laa-ilaaha-illallaah-lebih-berat-dari-tujuh-langit-dan-tujuh-bumi-digabungkan/







0 komentar:
Posting Komentar