Selasa, 11 Juni 2024

DAJJAL MENGHIDUPKAN ORANG MATI DARI KUBURNYA ?

 
Peringatan Rasulullah tentang Dajjal
Pertanyaan :

Apakah dajjal akan menghidupkan orang mati yang telah dikubur? Karena saya pernah mendengar, dia bisa menghidupkan orang mati.Lalu bagaimana nasib orang tua kita yg telah mati. Mohon pencerahannya.
_____

Jawab :

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

➡Pertama, bahwa tidak ada satupun yang bisa memberi nyawa kecuali Allah. Karena Dialah satu-satunya Dzat yang Menghidupkan sesuatu yang mati, termasuk membangkitkan kembali orang yang telah mati.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِي الْمَوْتَى وَأَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ

Yang demikian itu, karena Sesungguhnya Allah, Dialah al-Haq dan Sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.
(📖QS. Al-Hajj: 6 – 7).

Karena itu, tidak ada satupun makhluk yang memiliki kemampuan ini, kecuali mereka yang Allah jadikan perantara untuk menghidupkan orang mati dengan izin-Nya, seperti Nabi Isa ’alaihis salam.

➡Kedua, bahwa Dajjal datang kepada umat manusia mengaku dirinya tuhan, dan memaksa mereka untuk menjadi pengikutnya. Untuk mensukseskan dakwahnya, dia membuktikan kepada masyarakat dengan berbagai kesaktiannya, bahwa dirinya tuhan. Diantaranya, dia mengaku bisa membangkitkan orang mati dari kuburan.

Dan sejatinya ini hanya tipuan Dajjal. Dia mengaku mampu membangkitkan orang mati yang sudah dikubur. Dan Dajjal menampakkan kemampuan ini dengan bantuan setan. Karena setan dan Dajjal memiliki satu misi yang sama. ‎

Dalam hadis dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan beberapa tipuan Dajjal,

وَإِنَّ مِنْ فِتْنَتِهِ أَنْ يَقُولَ لأَعْرَابِىٍّ أَرَأَيْتَ إِنْ بَعَثْتُ لَكَ أَبَاكَ وَأُمَّكَ أَتَشْهَدُ أَنِّى رَبُّكَ فَيَقُولُ نَعَمْ. فَيَتَمَثَّلُ لَهُ شَيْطَانَانِ فِى صُورَةِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَقُولاَنِ ‏يَا بُنَىَّ اتَّبِعْهُ فَإِنَّهُ رَبُّكَ‎.‎

‎“Di antara fitnah Dajjal, dia menawarkan seorang Arab badui, ‘Renungkan, sekiranya aku bisa ‎membangkitkan ayah ibumu yang telah mati, apakah kamu akan bersaksi bahwa aku adalah Rabbmu?’ ‎Laki-laki arab tersebut menjawab, ‘Ya.’ Kemudian muncullah 2 setan yang menjelma di hadapannya ‎dalam bentuk ayah dan ibunya. Keduanya berpesan, ‘Wahai anakku, ikutilah dia, sesungguhnya dia ‎adalah Rabbmu.’”
(📚HR. Ibnu Majah 4077, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Jaami’us Shogir). ‎

Karena itu, pemahaman bahwa Dajjal akan menghidupkan semua orang yang telah dikubur, kemudian mendakwahi mereka dan mengajak mereka untuk menjadi pengikutnya, ini pemahaman yang salah. Karena Dajjal tidak mampu membangkitkan orang yang telah dikubur.

➡Ketiga, dalam keterangan yang lain, Dajjal mampu menghidupkan orang yang telah dia bunuh dengan izin Allah. Hanya saja, kemampuan ini bersifat terbatas. Dalam arti, hanya terjadi dalam satu kasus saja.

Dari Abu Said radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang Dajjal. Salah satu yang beliau ceritakan,

يَأْتِى الدَّجَّالُ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْهِ أَنْ يَدْخُلَ نِقَابَ الْمَدِينَةِ ، فَيَنْزِلُ بَعْضَ السِّبَاخِ الَّتِى تَلِى الْمَدِينَةَ ، فَيَخْرُجُ إِلَيْهِ يَوْمَئِذٍ رَجُلٌ وَهْوَ خَيْرُ النَّاسِ أَوْ ‏مِنْ خِيَارِ النَّاسِ ، فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّكَ الدَّجَّالُ الَّذِى حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – حَدِيثَهُ ، فَيَقُولُ الدَّجَّالُ أَرَأَيْتُمْ إِنْ قَتَلْتُ هَذَا ثُمَّ ‏أَحْيَيْتُهُ ، هَلْ تَشُكُّونَ فِى الأَمْرِ فَيَقُولُونَ لاَ . فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يُحْيِيهِ فَيَقُولُ وَاللَّهِ مَا كُنْتُ فِيكَ أَشَدَّ بَصِيرَةً مِنِّى الْيَوْمَ . فَيُرِيدُ الدَّجَّالُ أَنْ يَقْتُلَهُ فَلاَ يُسَلَّطُ ‏عَلَيْهِ

‎“Dajjal datang dan diharamkan masuk jalan Madinah. Lalu ia singgah di lokasi yang tak ada ‎tetumbuhan dekat Madinah. Kemudian ada seseorang yang mendatanginya, dan ia adalah di antara ‎manusia terbaik, dia berkata, ‘Saya bersaksi bahwa engkau adalah Dajjal yang telah diceritaan ‎Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Kemudian Dajjal mengatakan, ‘Apa pendapat kalian jika aku ‎membunuh orang ini lantas aku menghidupkannya, apakah kalian masih ragu terhadap perkara ini?’ ‎

‘Tidak’. Jawab mereka.

Dajjalpun membunuh orang ini kemudian menghidupkannya. Orang tersebut ‎mengatakan, ’Demi Allah, pada hari ini aku semakin yakin bahwa kamu dajjal.’ Lantas Dajjal ingin ‎membunuh orang itu, namun ia tak mampu membunuhnya.”
(📚HR. Bukhari 7132)

Dalam riwayat lain, terdapat keterangan tambahan,

قَالَ: فَيُؤْمَرُ بِهِ فَيُؤْشَرُ بِالْمِئْشَارِ مِنْ مَفْرِقِهِ حَتَّى يُفَرَّقَ بَيْنَ رِجْلَيْهِ، قَالَ: ثُمَّ يَمْشِي الدَّجَّالُ بَيْنَ الْقِطْعَتَيْنِ، ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: قُمْ، فَيَسْتَوِي قَائِمًا، قَالَ: ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: أَتُؤْمِنُ بِي؟ فَيَقُولُ: مَا ازْدَدْتُ فِيكَ إِلَّا بَصِيرَةً، قَالَ: ثُمَّ يَقُولُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّهُ لَا يَفْعَلُ بَعْدِي بِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ

Lalu Dajjal memerintahkan agar orang itu digergaji dari ujung kepala hingga pertengahan antara kedua kaki. Setelah itu Dajjal berjalan di antara dua potongan tubuh itu lalu berkata, ‘Berdirilah!’ Tubuh itu pun berdiri utuh. Selanjutnya Dajjal bertanya padanya, ‘Apa kau beriman padaku?’ Ia menjawab, ‘Aku semakin yakin tentang siapa kamu.’

Setelah itu orang itu berkata, ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dilakukan seperti ini setelahku.’
(📚HR. Muslim 2938).

Anda bisa perhatikan pernyataan pemuda itu, setelah dia dibangkitkan oleh Dajjal, ’Wahai sekalian manusia, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dilakukan seperti ini setelahku’ artinya, kemampuan ini hanya terbatas untuk kasus orang itu.

➡Keempat, andai semua orang yang telah dikuburkan itu dibangkitkan Dajjal, tentu mereka justru akan menjadi musuh-musuh Dajjal dan beriman kepada Allah. Karena ketika mereka meninggal dan memasuki alam barzakh, mereka bercita-cita bisa hidup kembali untuk memperbaiki imannya dan memperbanyak amalnya.

Allah menceritakan harapan para penghuni kubur,

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ . لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, Dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah Perkataan yang diucapkannya saja. dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.
(📖QS. Al-Mukminun: 99 – 100)

Allahu a’lam.

🖊Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits

Sumber : https://konsultasisyariah.com/22343-dajjal-menghidupkan-orang-mati-dari-kuburnya.html

Share:

PERSAKSIAN MALAIKAT DIWAKTU SUBUH

 Nasi Kemoh Street Pilot - KELEBIHAN SEDEKAH SUBUH Diwaktu subuh turun dua  malaikat. Malaikat pertama berdoa : "Ya Allah berikanlah orang yang  berinfaq itu balasan" Dan malaikat kedua berdoa : "Ya Allah

Shubuh adalah salah satu waktu di antara beberapa waktu, di mana Allah Ta’ala memerintahkan umat Islam untuk mengerjakan shalat kala itu. Allah Ta’ala berfirman,

“ Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh tu disaksikan (oleh malaikat).” (Qs. Al-Isra’: 78)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,

وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ ، يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ : اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ : (وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat Shubuh.” Abu Hurairah berkata, ‘Bacalah ketika itu sesukamu karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Lakukanlah shalat Shubuh karena sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat)’” (HR. Bukhari, no. 4717 dan Muslim, no. 649).

Subuh adalah kesempatan untuk menilai diri sendiri tentang seberapa dekat dirimu dengan Allah. Seberapa besar kamu menginginkan surga? Sanggupkah kamu meninggalkan tempat tidur untuk kemudian bersegera bersujud kepada Tuhanmu?

Shalat subuh adalah babak pertamamu melawan setan, entah kamu yang berhasil menjatuhkannya ataukah setan yang justru menjatuhkanmu dengan membuatmu tertidur.
Semoga kita tidak termasuk orang yang lalai

Barakallahu fiikum!

Share:

SAATNYA MEMAHAMI ISLAM DENGAN BENAR

 Saatnya Memahami Islam Dengan Benar

Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memilihkan Islam sebagai agamamu.
“Sesungguhnya agama (yang haq) di sisi Allah adalah Islam.” (QS. Ali Imron 19).
Dan Allah meridhoi Islam, menyempurnakan, dan melengkapinya untukmu agar engkau dapat meraih tujuan hidupmu yang utama yaitu beribadah kepada Allah.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah kuridhoi Islam itu sebagai agamamu.” (QS. Al Maidah 3).

Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah nikmat terbesar dari berbagai nikmat yang Allah berikan kepada umat ini. Yaitu Allah telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama yang lain dan juga tidak membutuhkan nabi selain nabi mereka, Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itulah, Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan menjadikannya pula sebagai nabi yang diutus kepada seluruh manusia dan jin. Maka tidak ada yang halal melainkan apa yang dihalalkannya dan tidak ada yang haram selain apa yang diharamkannya serta tidak ada agama yang benar kecuali agama yang disyari’atkannya.”

Engkau Bisa Meraih Nikmat Islam
Dan saudaraku, ketahuilah… engkau belum bisa mendapatkan nikmat Islam dalam hatimu sampai engkau memahaminya dengan benar. Pegangan utama seorang muslimah dalam memahami Islam adalah mengikuti Al Quran dan hadits. Allah telah menjamin akan menganugerahkan keistiqomahan kepada orang-orang yang mengikuti Al Quran, sebagaimana disebutkan tentang perkataan jin dalam Al Quran.

“Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan, setelah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada jalan kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Ahqoof: 30).
Allah juga menjamin akan memberikan keistiqomahan kepada para pengikut rasul sholallahu ‘alaihi wassalam yang disebutkan dalam firmanNya,

“Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy Syu’ara: 52)

Realita yang Engkau Hadapi
Pada realitanya, banyak sekaligus orang yang mengaku ber-ittiba’ (mengikuti) dan memahami Al Quran dan hadits. Sebagaimana para filosof dan orang-orang sufi mengatakan, “Kami adalah orang yang ber-ittiba’ terhadap Al Quran dan hadits dan memahaminya.” Para pengikut filsafat memang mengikuti Al Quran dan hadits, akan tetapi mereka menjadikan nash-nash Al-Qur’an dan hadits tunduk pada tuntutan akal mereka. Dengan demikian mereka sebenarnya telah meninggalkan Al Quran dan hadits dan menjadikan akal mereka sebagai Tuhan. Para pengikut sufi juga mengambil Al Quran dan hadits, namun mereka menjadikan nash-nash keduanya tunduk kepada perasaan mereka. Dengan demikian mereka pun meninggalkan Al Quran dan hadits dan menjadikan perasaan mereka sebagai Tuhan.

Kedua pemahaman tersebut merupakan contoh bahwa perpecahan telah terjadi pada umat Islam menjadi bergolong-golong. Mengapa umat Islam bisa berpecah belah? Tidak lain hal ini disebabkan manusia bersandar pada dirinya dalam memahami Al Quran dan hadits. Namun mereka tidak menyadari pemikiran manusia berbeda-beda dan tidak seragam. Di samping itu, kemampuan manusia dalam memahami Al Quran dan hadits sangat terbatas. Tidak ada satu akal pun yang sempurna, demikian juga tidak ada seorang pun yang terlepas dari kesalahan. Sehingga jadilah manusia berpecah-belah sesuai dengan pemikiran mereka masing-masing.

Semua pemahaman dari golongan-golongan tersebut salah adanya selama meraka masih berpegang pada hawa nafsu yang buruk dalam memahami Al Quran dan hadits, kecuali orang-orang yang Allah berikan petunjuk. Allah mengancam penyelewengan mereka terhadap Al Quran dan hadits dengan neraka.

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlul kitab terpecah menjadi 72 golongan dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. 72 golongan di dalam neraka dan 1 golongan berada di surga.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ad Darimi, Ath Thabroni, dll.).

Ash Shan’ani rahimahullah berkata, “Penyebutan bilangan dalam hadits itu bukan untuk menjelaskan banyaknya orang yang celaka dan merugi, akan tetapi untuk menjelaskan betapa luas jalan-jalan menuju kesesatan serta betapa banyak cabang-cabangnya, sedangakan jalan menuju kebenaran hanya satu.”

Dan orang-orang yang berpecah-belah karena memahami Al Quran dan hadits dengan hawa nafsu mereka yang menyimpang adalah teman-teman setan yang mengikuti jalan kesesatan.

Dari Ibnu Mas’ud berkata, “Pada suatu hari Rasulullah sholallohu ‘alaihi wassalam membuat sebuah garis lurus dan bersabda: ‘Ini adalah jalan Allah.’ Kemudian beliau membuat garis-garis lain di kanan kirinya, dan bersabda: ‘Ini jalan-jalan lain dan pada setiap jalan ini terdapat setan yang menyeru ke jalan-jalan tersebut.’ Beliau lalu membaca (firman Allah ta’ala): ‘Dan sesungguhnya inilah jalanKu yang lurus. Oleh karena itu, ikutilah. Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain yang akan memecah belah kamu dari jalanNya.'” (QS. Al An’am 153).

Lalu, Bagaimana Memahami Islam yang Benar ?
Setelah menilik realita yang ada, kita dapat mengetahui bahwa tidak semua orang yang belajar Al Quran dan hadits mendapatkan nikmat Islam dalam hatinya. Hal ini memang merupakan hal yang sangat disayangkan. Semua golongan-golongan dalam Islam tidak akan pernah mendapat nikmat Islam karena tidak memahami Al Quran dan hadits dengan benar. Lalu, bagaimana memahami Islam yang benar?

Wahai saudaraku, renungkanlah apa yang engkau baca dengan lisanmu setiap engkau sholat maka engkau akan mendapatan jawabannya. Sesungguhnya Allah berfirman, “Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat atas mereka.” (Qs. Al Fatihah: 6-7).

Dari sini, engkau mendapatkan jawabannya, saudaraku! Bahwa untuk mendapatkan nikmat Islam adalah memahami Al Quran dan hadits dengan mengikuti orang-orang yang telah terlebih dahulu mendapatkan nikmat Islam. Siapakah mereka?

Ibnul Qoyyyim berkata, “Siapa saja yang lebih mengetahui kebenaran serta istiqomah mengikutinya maka ia lebih pantas untuk mendapatkan ash shiraathal mustaqiim (jalan yang lurus).”

Syaikh Abdul Malik Ramadhani menjelaskan bahwa manusia yang paling utama yang telah Allah beri nikmat ilmu dan amal adalah para shahabat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, karena mereka mendapatkan petunjuk langsung dari Rasul shollallahu ‘alaihi wasallam yang mulia. Dengan demikian penafsiran dan pemahaman merekalah yang paling selamat. Selain itu, mereka adalah generasi terbaik dari umat ini dalam memahami Al Quran dan hadits serta mengamalkannya.

“Sebaik-baik umat ini adalah generasiku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian orang yang mengikuti mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi/ HR. Bukhori Muslim).

Yang dimaksud dengan generasiku adalah para shahabat beliau. Generasi orang yang mengikuti para shahabat dalam memahami Al Quran dan hadits adalah tabi’in dan yang mengikuti tabi’in adalah tabi’ut tabi’in.

Para shahabat merupakan kaum yang dipilihkan oleh Allah untuk menemani nabiNya, dan menegakkan agamaNya.

Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya Allah memandang kepada hati para hambaNya. Dia mendapati Muhammad adalah yang paling baik hatinya. Lalu Allah memilihnya untuk diriNya dan mengutusnya dengan risalahNya. Kemudian Allah kembali memandang hati hamba-hambaNya yang lain. Dia mendapati para shahabat adalah orang-orang yang paling baik hatinya setelah beliau shollallahu ‘alaihi wasallam. Allah lalu jadikan mereka sebagai pembantu NabiNya dan mereka berperang membela agamaNya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad).

Dan pemahaman para shahabat sering juga disebut manhaj salafus sholih (pemahaman pendahulu yang sholih).
Wajibnya Berpegang Teguh pada Manhaj Salafus Sholih

Ketahuilah saudaraku bahwa perpecahan umat menjadi bergolong-golong adalah tercela dan dibenci. Allah ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Masing-masing golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar Ruum: 31-32).
Dan meskipun perpecahan tidak diridhoi oleh Allah, namun hanya sedikit orang yang bisa selamat darinya. Dan tidaklah seseorang selamat dari bencana ini kecuali orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah bersabda yang artinya: “Orang-orang Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan orang-orang Nashrani seperti itu juga. Adapun umat ini terpecah menjadi 73 golongan.” didalam riwayat lain disebutkan: “Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan dan umatku terpecah menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya: “Siapa yang (selamat) itu wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “(Yang mengikuti aku dan para sahabatku).” (HR.Tirmidzi dengan sanad yang hasan)

Allah hanya menginginkan kebaikan dari para hambaNya agar hambaNya kembali kepada kampung halamannya, yaitu surga. Oleh karena itu, diwajibkan atas seorang hamba untuk menyelamatkan diri dari perpecahan dan berpegang teguh pada jalan Rasulullah dan para sahabatnya.

Rasulullah saw bersabda dalam hadits Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu yang artinya, “Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rosyidin, pegang eratlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lain).

Allah memuji orang-orang yang mengikuti jejak salaf dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan di dalamnya terdapat perintah akan wajibnya mengikuti mereka, karena keridhoan Allah tidak mungkin bisa diraih melainkan hanya dengan mengikuti mereka.

Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100).

Hidayah untuk kembali kepada Allah dan meraih surga hanya bisa diperoleh lewat jalannya para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 137).

Allah mengancam orang yang durhaka kepada Rasulullah dan menyelisihi kaum mukmin pada zamannya (yaitu shohabat) dengan neraka jahannam.

“Barangsiapa yang mendurhakai Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan kaum mukmin, Kami biarakan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115).

Ya Allah… mudahkanlah kami menempuh jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat atas mereka, yaitu orang-orang yang memeperoleh hidayah dan istiqomah. Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, yang hati mereka telah rusak sehingga mereka menyimpang dari kebenaran meskipun telah mengetahuinya. Bukan pula jalan orang-orang yang sesat yang tidak memiliki dan tidak mau belajar ilmu agama, sehingga mereka terus-menerus dalam kesesatan dan tidak mendapatkan petunjuk kepada kebenaran. Amiin…

Washollallahu ‘ala Nabiyyi Muhammad wa ‘ala alihi wa Shahbihi wa sallam

Rujukan:
    Sittu Duror Landasan Membangun Jalan Selamat karya Syaikh Abdul Malik Ramadhani    Membedah Akar Bid’ah karya Ali Hasan Al Halabi Al Atsari    Artikel ‘Sudah Saatnya Meniti Manhaj Salaf’ yang merupakan penjelasan Syaikh Salim bin ‘Id Al   Hilali dalam ceramah beliau dalam Majalah As Sunnah edisi 01/Tahun XI/ 1428H/2007M    Artikel ‘Mengapa Harus Salafi?’ karya Abu ‘Abdirrahman bin Toyyib As Salafi dari situs salafindo.com

*
Penyusun: Ummu ‘Abdirrahman
Muroja’ah: Ust. Subhan Khadafi, Lc.
Artikel www.muslimah.or.id

Share:

MUSIBAH DAN UJIAN ADALAH SUNNATULLAH BAGI PARA HAMBA

Fawaid Hadist #37 | Musibah dan Ujian Adalah Sunnatullah Bagi Para Hamba –  Belajar Islam

🌹Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah wa ba'du.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا يَزَال الْبَلاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمؤمِنَةِ في نَفْسِهِ وَولَدِهِ ومَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّه تعالى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

"Cobaan itu akan senantiasa bersama orang yang beriman baik laki-laki ataupun perempuan baik berkaitan dengan dirinya, anaknya ataupun hartanya sampai dia berjumpa dengan Allah tanpa membawa dosa." [HR. At-Tirmidzi no. 2399, Imam Tirmidzi berkata, hadis ini hasan shahih].

🌟 Faidah Hadis:

Hadis ini memberikan faidah-faidah berharga, di antaranya:

1. Pelajaran berharga bahwa musibah dan ujian itu merupakan sunnatullah yang berlaku atas para hamba.

2. Siapa saja yang sudah menyatakan dirinya beriman maka dia pasti akan mendapatkan cobaan dan ujian. Hal ini juga ditegaskan dalam sebuah ayat:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُون

"Apakah manusia itu mengira bahwasanya mereka akan dibiarkan begitu saja setelah mengucapkan ‘Kami beriman’ sementara mereka tidak akan mendapatkan cobaan dan ujian." [QS. Al-‘Ankabuut: 2]

3. Musibah dan ujian yang dialami seorang Muslim itu bermacam macam, adakalanya berkaitan dengan dirinya, anak keturunannya atau harta benda yang dimilikinya, dan kabar gembira (akhir bahagia) itu adalah bagi orang yang bersabar dalam menghadapi semua itu. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِين

"Dan sungguh Kami (Allah) akan memberikan cobaan kepada kalian dengan sedikit dari rasa takut, kelaparan, berkurangnya harta, jiwa dan buah buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang orang yang sabar." [QS. Al-Baqarah: 155]

4. Penjelasan tentang salah satu aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu perjumpaan dengan Allah Ta’ala.

5. Salah satu aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah bahwasnya Allah Ta’ala bisa dilihat kelak di akhirat. Adapun di dunia maka tidak ada seorang pun yang bisa melihat Allah Ta’ala.

6. Hikmah dari cobaan dan ujian bagi seorang yang beriman adalah sebagai penghapus dosa juga pelebur kesalahan.

7. Keutamaan orang yang beriman di mana ujian dan cobaan yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepadanya itu bukan sebagai siksaan dan adzab melainkan sebagai penghapus dosa. Hal ini berbeda dengan orang yang tidak beriman, cobaan dan musibah yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka itu sebagai hukuman dan siksaan yang disegerakan di dunia di samping adzab dan siksaan yang lebih berat dan kekal di akhirat selama mereka tidak bertaubat sebelum meninggal.

8. Rahmat kasih sayang Allah Azza wa Jalla yang begitu luas dan besar terhadap hamba-hambaNya yang beriman.

[Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih Al Utsaimin rahimahullah dan Kitab Bahjatun Naadziriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy]

والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

💻 Sumber: https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-37-musibah-dan-ujian-adalah-sunnatullah-bagi-para-hamba/

Share:

KEGUNDAHAN DAN USAHA MENGHILANGKANNYA

 Kegundahan Dan Usaha Menghilangkannya – Thayyibah

Dalam kehidupan, seringkali manusia ditimpa berbagai musibah, didera duka nestapa, sehingga membuatnya sedih dan merasa sakit. Bahkan tak jarang membuatnya terpuruk dalam duka lara yang berkepanjangan.

 Kesedihan dan kepedihan ini bisa disebabkan oleh hal-hal yang telah lewat, atau berkenaan dengan hal yang dikhawatirkan akan terjadi nanti, maupun kepedihan yang tengah dialami.

 Kadang seseorang berduka hati ketika mengingat masa lalu yang pahit. Atau dirundung kekhawatiran ketika membayangkan derita yang diperkirakan akan menimpa. Juga terkadang ia diliputi kegundahan dan duka mendalam ketika musibah tengah mendera.

Oleh karena itu para Ulama’ mengatakan bahwa rasa sakit di hati jika berkaitan dengan masa lalu disebut denga al – huzn(kesedihan). Sedangkan jika berkaitan dengan hal yang akan terjadi di masa yang akan datang dinamakan al-hamm(kekhawatiran). Adapun jika berkaitan dengan masa sekarang dinamakan al-ghamm (kegundahan).

 Ketiga hal tersebut (kesedihan, kekhawatiran dan kegundahan) adalah gejolak hati, yang jika hati telah ditimpa hal tersebut, maka akan membuatnya lemah, susah tidur, pikiran tak tenang, sikap dan prilakunya pun menjadi tidak stabil.

 Bahkan ini bisa terlihat nyata dari raut wajahnya. Karenanya terkadang ketika kita bertemu dengan seorang teman, meski tak ada sepatah katapun yang ia ucapkan, kita bisa langsung menerka bahwa ia sedang bersedih.

Hal itu tidak lain karena kegundahan hatinya terlihat nyata di raut wajahnya, terlebih jika kegundahan itu begitu berat. Keadaan seperti ini bisa menimpa setiap orang, disebabkan keadaan dan situasi yang silih berganti.

Kemudian jika kita perhatikan, setiap orang menempuh berbagai cara untuk menghilangkan kegundahan hatinya. (Mulai dari cara yang gratis sampai yang berbayar, baik yang berbiaya murah ataupun yang berbiaya mahal, bahkan super mahal pun mereka lakukan, demi menghilangkan kegundahan hatinya-red).

Namun (mereka tidak akan berhasil meraihnya, karena –red) tidak lain cara terbaik dan obat termanjurnya adalah dengan sepenuh hati kembali kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Dengan menghambakan diri kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , mengingat ( dzikir ) dan mengagungkan-Nya, menyibukkan hati dengan tauhid dan iman, serta bermunajat kepadanya-Nya.

Dengan ini, niscaya kesedihan, kekhawatiran dan kegundahan akan sirna. Tak ada sedikitpun yang tersisa.

Dzikir adalah kunci ketenangan hati, kesejukan jiwa dan penghilang kesedihan. Allâh Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ  ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenang dengan mengingat Allâh, ketahuilah dengan mengingat Allâh hati menjadi tenang” [Ar-Ra’d/ 13: 28].Baca Juga   Doa Berlindung Dari Hilangnya Nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Jadi, ketenangan hati, hilangnya kesedihan dan kegundahan, hanya bisa dicapai dengan mengingat Allâh Subhanahu wa Ta’ala , mengagungkan dan beriman kepada-Nya dengan sepenuh hati.

Kesimpulannya ; bahwa dzikir adalah obat dan penawar penyakit hati .

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mengajarkan dzikir-dzikir yang dianjurkan untuk dibaca dan ditekuni oleh siapa saja yang sedang ditimpa kesusahan, kesedihan dan kegundahan, agar semua rasa itu hilang darinya.

 Dzikir-dzikir tersebut termaktub dalam kitab-kitab hadits para Ulama’. Berikut kami sebutkan beberapa do’a dan dzikir sahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dianjurkan untuk dibaca oleh setiap orang yang tertimpa kesusahan dan kesedihan.

Imam al-Bukhâri rahimahullah dan Muslim rahimahullah meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ditimpa kesusahan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ ; لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ; لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Tiada ilah (tuhan) yang berhak diibadahi kecuali Allâh Subhanahu wa Ta’ala  Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun; Tiada ilah (tuhan) yang berhak diibadahi kecuali Allâh Subhanahu wa Ta’ala  Pemilik dan Penguasa Arsy’ yang agung; Tiada ilah (tuhan) yang berhak diibadahi kecuali Allâh Subhanahu wa Ta’ala Pemilik dan Penguasa langit, bumi dan Arsy yang mulia. ” [1]

Imam Abu Daud meriwayatkan hadits dari Asmâ’ binti Umais, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku: “ Maukah aku ajarkan kepadamu do’a yang hendaknya engkau baca di waktu sulit?! Engkau mengucapkan:

أَللَّهُ أَللَّهُ رَبِّي لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Allâh, Allâh adalah Rabbku; aku tidak menyekutukan-Nya dengan apapun . [2]

Imam Abu Daud juga meriwayatkan hadits dari Abu Bakrah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa orang yang ditimpa kesusahan adalah:

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Ya Allâh , semata-mata hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka jangan kau biarkan aku mengurus diriku sendiri walau sekejap mata sekalipun, dan perbaikilah segala urusanku, tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau”. [3]

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Sa’d bin Abi Waqqash, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنْ الظَّالِمِينَ فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

 Baca Juga   Pendukung Dan Penghalang Dari Taubat

“ Do’a nabi Yunus ketika ia berada di dalam perut ikan:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنْ الظَّالِمِينَ

(Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan haq kecuali engkau, sungguh aku adalah hamba yang zhalim ) , sesungguhnya tidaklah seorang muslim membacanya untuk suatu keperluan melainkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala  akan mengabulkannya ”. [4]

Keempat hadits agung dan sahih di atas, mengajarkan do’a penawar kegundahan hati setiap insan, penghilang kesedihan dan kesusahan. Sungguh, demi Dzat Yang tidak ada yang berhak disembah selan Dia, jika seorang hamba membaca do’a-do’a tersebut dengan penuh penghayatan, niscaya tak akan tersisa secuil pun kegundahan di hatinya.

Karena do’a tersebut adalah penawar hati yang manjur lagi penuh berkah. Namun saat membacanya harus dibarengi dengan penghayatan makna, lalu  merealisasikan isi kandungannya.

Para Ulama berkata, “Bahwa membaca do’a-do’a yang ma’tsur (sahih) tanpa memahami makna dan mentadaburi isi kandungannya, berefek kurang maksimal dan minim faedah”. Oleh karena itu, kita harus memahami makna dzikir-dzikir kita kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

Umumnya kita sering dan tekun membaca do’a-do’a yang diajarkan syariat, tapi tidak menghayati maknanya, sehingga hasilnya pun kurang maksimal.

 Jika kita perhatikan dengan seksama keempat do’a di atas, niscaya kita dapati bahwa keseluruhannya bermuara pada satu titik temu, yaitu; merealisasikan tauhid yang menjadi tujuan penciptaan seluruh hamba.

Tauhid yang bermakna mengikhlaskan ibadah dan ketaatan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Itulah tempat kembali terbaik bagi manusia setiap kali diterpa kesulitan dan kesedihan.

 Dan itu tidak akan hilang kecuali dengan merealisasikan tauhid dan kembali sepenuhnya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh keikhlasan.

___
Footnote
[1] HR. Al-Bukhâri, no. 6346 dan Muslim, no. 2703
[2] HR. Abu Daud, no. 1525; Ibnu Majah, no. 3882; Hadits ini dihukumi shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîh at-Targhîb , no. 1284
[3] HR. Abu Daud, no. 5090. Hadits ini dinayatakan sebagai hadits hasan dalam kitab Shahîh al-Jâmi , no. 3388
[4] HR. At-Tirmidzi, no. 3505. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahîh al-Jâmi , no. 3383

sumber: https://almanhaj.or.id/9439-kegundahan-dan-usaha-menghilangkannya.html

Via HijrahApp

Share:

Jumat, 24 Mei 2019

AHLUS SUNNAH TAAT KEPADA PEMIMPIN KAUM MUSLIMIN

Hasil gambar untuk taat pemimpinOleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajibnya taat kepada pemimpin kaum Muslimin selama mereka tidak memerintahkan untuk berbuat kemaksiyatan, meskipun mereka berbuat zhalim. Karena mentaati mereka termasuk dalam ketaatan kepada Allah, dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah wajib.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kalian.” [An-Nisaa: 59]

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَطاَعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ.

“Tidak (boleh) taat (terhadap perintah) yang di dalamnya terdapat maksiyat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebajikan” [1]

Juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ.

“Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada apa-apa yang ia cintai atau ia benci kecuali jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.” [2]

Apabila mereka memerintahkan perbuatan maksiyat, saat itulah kita dilarang untuk mentaatinya namun tetap wajib taat dalam kebenaran lainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

…أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ آمَرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ…

“…Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi, tetaplah mendengar dan mentaati, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak hitam…“ [3]

Ahlus Sunnah memandang bahwa maksiat kepada seorang amir (pemimpin) yang muslim merupakan perbuatan maksiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي.

“Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah durhaka kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada amirku (yang muslim) maka ia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada amirku, maka ia maksiat kepadaku.” [4]

Imam al-Qadhi ‘Ali bin ‘Ali bin Muhammad bin Abi al-‘Izz ad-Dimasqy (terkenal dengan Ibnu Abil ‘Izz wafat th. 792 H) rahimahullah berkata: “Hukum mentaati ulil amri adalah wajib (selama tidak dalam kemaksiatan) meskipun mereka berbuat zhalim, karena kalau keluar dari ketaatan kepada mereka akan menimbulkan kerusakan yang berlipat ganda dibanding dengan kezhaliman penguasa itu sendiri. Bahkan bersabar terhadap kezhaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan dapat melipatgandakan pahala. Karena Allah Azza wa Jalla tak akan menguasakan mereka atas diri kita melainkan disebabkan kerusakan amal perbuatan kita juga. Ganjaran itu bergantung pada amal perbuatan. Maka hendaklah kita bersungguh-sungguh memohon ampunan, bertaubat dan memperbaiki amal perbuatan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan musibah apa saja yang menimpamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan).” [Asy-Syuraa: 30]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” [Al-An’aam: 129]

Apabila rakyat ingin selamat dari kezhaliman pemimpin mereka, hendaknya mereka meninggalkan kezhaliman itu juga.” [5]

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata: “Penjelasan di atas sebagai jalan selamat dari kezhaliman para penguasa yang ‘warna kulit mereka sama dengan kulit kita, berbicara sama dengan lisan kita’ karena itu agar umat Islam selamat:

1. Hendaklah kaum Muslimin bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Hendaklah mereka memperbaiki ‘aqidah mereka.
3. Hendaklah mereka mendidik diri dan keluarganya di atas Islam yang benar sebagai penerapan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d: 11]

Ada seorang da’i berkata:

أَقِيْمُوْا دَوْلَةَ اْلإِسْلاَمِ فِي قُلُوْبِكُمْ، تُقَمْ لَكُمْ فِيْ أَرْضِكُمْ.

“Tegakkanlah negara Islam di dalam hatimu, niscaya akan tegak Islam di negaramu.”

Untuk menghindarkan diri dari kezhaliman penguasa bukan dengan cara menurut sangkaan sebagian orang, yaitu dengan memberontak, mengangkat senjata ataupun dengan cara kudeta, karena yang demikian itu termasuk bid’ah dan menyalahi nash-nash syari’at yang memerintahkan untuk merubah diri kita lebih dahulu. Karena itu harus ada perbaikan kaidah dalam pembinaan, dan pasti Allah menolong hamba-Nya yang menolong agama-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“… Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Maha Perkasa.” [Al-Hajj: 40] [6]

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menganjurkan agar menasihati ulil amri dengan cara yang baik serta mendo’akan amir yang fasiq agar diberi petunjuk untuk melaksanakan kebaikan dan istiqamah di atas kebaikan, karena baiknya mereka bermanfaat untuk ia dan rakyatnya.

Imam al-Barbahari (wafat tahun 329 H) rahimahullah dalam kitabnya, Syarhus Sunnah berkata: “Jika engkau melihat seseorang mendo’akan keburukan kepada pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk salah satu pengikut hawa nafsu, namun jika engkau melihat seseorang mendo’akan kebaikan kepada seorang pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk Ahlus Sunnah, insya Allah.”

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Jikalau aku mempunyai do’a yang baik yang akan dikabulkan, maka semuanya akan aku tujukan bagi para pemimpin.” Ia ditanya: “Wahai Abu ‘Ali jelaskan maksud ucapan tersebut?” Beliau berkata: “Apabila do’a itu hanya aku tujukan bagi diriku, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan ternyata para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya.”

Kita diperintahkan untuk mendo’akan mereka dengan kebaikan bukan keburukan meskipun ia seorang pemimpin yang zhalim lagi jahat karena kezhaliman dan kejahatan akan kembali kepada diri mereka sendiri sementara apabila mereka baik, maka mereka dan seluruh kaum Muslimin akan merasakan manfaat dari do’anya.” [7]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. HR. Al-Bukhari (no. 4340, 7257), Muslim (no. 1840), Abu Dawud (no. 2625), an-Nasa-i (VII/159-160), Ahmad (I/94), dari Sahabat ‘Ali z. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (1/351 no. 181) oleh Syaikh Al-Albani t.
[2]. HR. Al-Bukhari (no. 2955, 7144), Muslim (no. 1839), at-Tirmidzi (no. 1707), Ibnu Majah (no. 2864), an-Nasa-i (VII/160), Ahmad (II/17, 142) dari Saha-bat Ibnu ‘Umar c. Lafazh ini adalah lafazh Muslim.
[3]. HR. Ahmad (IV/126,127, Abu Dawud (no. 4607) dan at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimi (I/44), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/205) dan al-Hakim (I/95-96), dari Sahabat ‘Irbadh bin Sariyah . Dishahihkan oleh al-Hakim dan di-sepakati oleh adz-Dzahabi. Lafazh ini milik al-Hakim.
[4]. HR. Al-Bukhari (no. 7137), Muslim (no. 1835 (33)), Ibnu Majah (no. 2859) dan an-Nasa-i (VII/154), Ahmad (II/252-253, 270, 313, 511), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (X/41, no. 2450-2451), dari Sahabat Abu Hurairah .
[5]. Lihat Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 543) takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin at-Turki.
[6]. Al-‘Aqiidatuth Thahaawiyyah (hal. 69), tahqiq Syaikh al-Albani, cet. II/Maktab al-Islami, th. 1414 H.
[7]. Lihat Syarhus Sunnah (no. 136), oleh Imam al-Barbahary.

Baca Selengkapnya : https://almanhaj.or.id/1399-ahlus-sunnah-taat-kepada-pemimpin-kaum-muslimin.html

Share:

Sabtu, 18 Mei 2019

Kisah Taubatnya Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari

Hasil gambar untuk sungaiPenulis: Amin Nurhakim

Siapa yang tak mengenal imam kita dalam akidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) ini, imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Beliaulah yang merumuskan akidah Aswaja sebagaimana akidah para salafus saleh terdahulu sampai ke masa Nabi saw. Perlu dicatat bahwa merumuskan bukanlah membuat atau menciptakan, jadi beliau bukan membuat akidah baru, akan tetapi hanya merumuskan.

Sebelum Imam al-Asy’ari merumuskan akidah Aswaja, beliau memiliki sejarah yang menarik bersama Mu’tazilah, yang mana paska beliau taubat banyak membantah kelompok-kelompok yang dinilai menyimpang, salah satunya adalah Mu’tazilah.

Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dahulunya adalah seorang Mu’tazilah, bukan sekadar orang awam yang taqlid buta, namun beliau dijadikan rujukan dan menjadi ulama Mu’tazilah pada masanya.

    Tak tanggung-tanggung, Imam al-Asy’ari berpegang pada mazhab ini selama 40 tahun sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Tabyinu Kadzibil Muftari fî Ma Nushiba ilal Imamil Asy’ari yang dikarang oleh Ibnu ‘Asakir ad-Dimasqî (571 H).

Salah satu guru beliau yang mashur adalah Al-Jubba’i. Konon pernah terjadi percakapan yang membuat Imam al-Asy’ari bimbang pada mazhab ini, yaitu tentang permasalahan fi’lus sholah (Allah wajib menciptakan yang baik).

Imam al-Asy’ari: “Bagaimana pendapatmu tentang mukmin, kafir, dan bayi yang meninggal dalam waktu yang sama?”

Al-Jubbai: “Orang mukmin masuk surga, yang kafir masuk neraka, dan yang bayi terbebas dari bahaya.”

Imam al-Asy’ari: “Bagaimana jika bayi itu ingin masuk surga? Apakah bisa?”

Al-Jubba’i: “Tidak, sebab yang mukmin masuk surga karena ketaatannya kepada Tuhan, dan bayi belum melakukan ketaatan (beribadah).

Imam al-Asy’ari: “Bagaimana jika bayi itu berkata kepada Tuhan: “Itu bukan salahku, seandainya engkau memberiku hidup panjang, aku akan taat kepadamu.”

Al-Jubba’i: Tuhan akan menjawab, “Aku tahu bahwa jika kupanjangkan umurmu, kau akan berbuat dosa yang mengakibatkan masuk neraka, maka untuk kebaikanmu, Aku ambil nyawamu sebelum engkau terkena taklif (beban tanggungan sya’riat).”
Baca Juga:  Maziah dan Wasiat Mbah Ma'shoem Lasem

Imam al-Asy ‘ari: Bagaimana jika yang kafir itu protes: “Engkau tahu masa depanku sebagaimana masa depan bayi itu, tapi mengapa tidak engkau jaga kebaikanku?”

Sampai disini al-Jubba’i bungkam dan tak dapat menjawab.

Setelah itu Imam al-Asy’ari semakin bimbang, banyak pikiran dan keraguan yang berkecamuk dalam kepalanya, semakin parah kini kegundahan itu mulai merembas ke dalam hatinya maka beliau semakin tidak tenang.

    Imam al-Asy’ari pun salat dua raka’at dan berdoa kepada Allah Swt agar ditunjukan jalan yang lurus, sampai Allah pun membukakan mata hatinya dan melapangkan dadanya. Saat tertidur, beliau bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Akhirnya Imam al-Asy’ari segera menceritakan keluh kesah yang sedang dialaminya, Rasulullah saw pun menjawab, “Ikutilah sunnnahku.” Sebagaimana termaktub dalam mukaddimah kitab Tabyîn Kadzibi al-Muftarî, beliau langsung terbangung dari tidurnya dan mendapatkan petunjuk.

Kemudian beliau datang ke masjid Jami’ di kota Basrah, bertepatan dengan hari Jumat setelah selesai shalat Jum’at. Langsung Imam al-Asy’ari naik ke atas mimbar dan berpidato, “Wahai manusia, beberapa hari ini aku telah menghilang di antara kalian, sebab aku membandingkan dalil-dalil yang sepadan (dalam mazhab Mu’tazilah), namun belum menguatkan kebenaran dari kebatilan, juga sebaliknya.

Maka aku pun meminta petunjuk kepada Allah Swt, kemudian Dia memberiku hidayah dan aku menyimpannya dalam kitab-kitabku ini. Aku telah melepas apa yang dulu aku yakini sebagaimana aku melepas baju ini.” Kemudian beliau melepas bajunya dan melemparnya.

Semoga bermanfaat
Share:

RADIO DAKWAH

LISTEN QURAN

Listen to Quran

Clock


Blog Archive